
Yang paling menyakitkan, lanjut St. Arwati, bukanlah pukulan yang diterima rekan mereka, melainkan lambatnya proses hukum yang seakan berhenti di tempat. Penyidikan jalan di tempat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menghalangi jalannya keadilan.
“Kami bertanya dengan lantang: Mengapa penindakan terasa begitu berat? Apakah karena pelakunya punya uang? Punya koneksi? Benarkah bisik rakyat yang terdengar di mana-mana, bahwa pihak berwenang takut kepada mafia BBM?” tantangnya.

St. Arwati menegaskan, jika penegak hukum saja gentar menghadapi mafia, siapa lagi yang akan melindungi rakyat kecil yang rela antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM subsidi yang merupakan haknya? Jika jurnalis yang berani membongkar kejahatan saja tidak dilindungi, siapa lagi yang berani menyuarakan kebenaran?
“Ketika mafia bisa menindas jurnalis tanpa rasa takut diusut, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan kepada satu institusi, tetapi kepercayaan seluruh rakyat kepada keadilan itu sendiri,” ujarnya dengan suara bergetar namun tegas.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





