
SUARAIMBANG.COM, MAKASSAR — Di tengah perubahan kriteria penilaian yang berlaku pada ajang Kemah Santri Muhammadiyah Nasional (KSMN) II di Malang, Jawa Timur, kontingen Sulawesi Selatan pulang membawa kebanggaan yang tak tergoyahkan. Ratusan santri yang berlaga di ajang bergengsi tersebut tiba di Pelabuhan Makassar pada Sabtu dinihari, 26 September 2026, pukul 01.00 WITA, dan disambut hangat oleh jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan.
Kepulangan rombongan yang terdiri dari 246 peserta — 210 santri dari delapan pesantren Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, 25 orang pembina, serta 11 anggota panitia — menjadi momen haru sekaligus membanggakan. Perjuangan dan kerja keras selama berbulan-bulan persiapan membuahkan hasil nyata: Sulawesi Selatan berhasil membawa pulang total 33 medali, yang terdiri dari 9 emas, 14 perak, dan 10 perunggu, serta meraih 22 penghargaan Juara Harapan.
Penyambutan resmi dipimpin langsung oleh Wakil Ketua PWM Sulsel, Dr. K.H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., didampingi pengurus Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Muhammadiyah (LP2M) PWM Sulsel. Dalam kesempatan tersebut, Mawardi menyampaikan apresiasi sekaligus pesan khusus dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Haedar secara khusus memuji pencapaian luar biasa yang diraih oleh kontingen Sulawesi Selatan dan menegaskan bahwa hasil ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan pembinaan serta kemajuan pesantren-pesantren Muhammadiyah di daerah ini.
Yang menarik, Mawardi menyampaikan penjelasan penting terkait perubahan sistem penilaian yang berlaku pada KSMN II tahun ini. Kriteria penentuan juara umum yang sebelumnya berbasis perolehan medali per provinsi, diubah pada ajang ini menjadi berbasis regu atau kelompok peserta. Meski aturan permainan berubah, Mawardi dengan tegas menegaskan bahwa prestasi yang ditorehkan oleh putra-putri terbaik Sulawesi Selatan tetaplah yang paling unggul secara faktual.
“Melihat jumlah dan jenis medali yang berhasil kita persembahkan, Sulawesi Selatan adalah Juara Umum Sejati!” tegas Mawardi di hadapan para santri, pembina, dan keluarga yang hadir di pelabuhan.
Pernyataan ini disambut tepuk tangan dan sorak gembira dari seluruh rombongan yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari Malang ke Makassar. Bagi para santri, pengakuan ini menjadi penegas bahwa kerja keras, disiplin, dan semangat kebersamaan yang mereka tunjukkan selama di Malang tidak sia-sia, terlepas dari perubahan apa pun yang terjadi pada aturan penilaian.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





