Kisah Klasik Mr. Lahuddut: Ketika Wartawan Hanya Bermodal Nekat

  • Bagikan
Ilustrasi Kartun: Kisah Klasik Lahuddut -- Wartawan yang Punya 14 Kartu Pers. "Lahuddut berteriak 'Saya ayah si korban!' untuk menerobos kerumunan, namun terkejut saat mengetahui korban kecelakaan adalah seekor monyet. Di sisi lain, ia tak sadar sedang mewawancarai sopir yang mengantar dirinya sendiri ke lokasi." (Dok: Istimewa).

Ketika kartu pers bisa didapatkan dengan mudahnya, ketika standar kompetensi diabaikan, maka yang terjadi bukanlah kemajuan pers, melainkan kemunduran martabat profesi itu sendiri. Jurnalistik bukan sekadar soal hadir di lokasi dan memegang rekaman. Ia adalah tentang akurasi, etika, tanggung jawab, dan kebenaran. Tanpa itu, sekalipun memiliki 14 kartu pers, seseorang hanyalah orang asing yang berteriak — tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Semoga kisah Lahuddut bukan sekadar cerita lucu untuk hari ini, melainkan cermin bagi kita semua: bahwa menjadi wartawan bukan soal siapa yang paling banyak identitasnya, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab atas setiap kata yang dituliskan.

(Gus/Editor: Devikha Maharani, S.I.Kom.)

                               
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan