
Belum lama berlalu, Lahuddut kembali mendapat tugas — kali ini untuk meliput sebuah peristiwa pembunuhan. Perusahaan tempat ia bernaung pun menyediakan mobil lengkap dengan sopirnya. Sesampainya di lokasi, kerumunan orang terlihat sangat banyak. Ia pun berkeliling mewawancarai warga, tetangga, bahkan beberapa keluarga korban. Namun, hatinya belum merasa puas. Ia merasa butuh narasumber yang lebih “akurat”.
Lalu matanya tertuju pada seorang bapak yang berdiri tak jauh dari sana. Wajahnya tampak ramah, sering tersenyum. Lahuddut pun yakin: inilah orang yang akan memberikan keterangan paling jujur.
Ia pun mendekat dan mulai bertanya:
Lahuddut: “Apakah Anda tetangga korban?”
Bapak itu: “Oh… bukan.”
Lahuddut: “Kalau begitu, Anda keluarganya!”
Bapak itu: “Bukan juga.”
Lahuddut: “Lalu, apa hubungan Anda dengan korban?”
Bapak itu: “Tidak ada.”
Lahuddut: “Lalu mengapa Anda ada di sini?”
Bapak itu: “Saya kan sopir bapak yang membawa bapak kemari.”
Lahuddut terdiam. Ia baru sadar — ia justru mewawancarai sopir yang mengantar dirinya sendiri ke lokasi.
Kisah ini terdengar seperti lelucon. Namun di balik tawa yang tersisa, ada sebuah pertanyaan serius yang patut direnungkan bersama: Siapa yang sebenarnya menjaga kewibawaan profesi jurnalistik ini?
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





