Kisah Klasik Mr. Lahuddut: Ketika Wartawan Hanya Bermodal Nekat

  • Bagikan
Ilustrasi Kartun: Kisah Klasik Lahuddut -- Wartawan yang Punya 14 Kartu Pers. "Lahuddut berteriak 'Saya ayah si korban!' untuk menerobos kerumunan, namun terkejut saat mengetahui korban kecelakaan adalah seekor monyet. Di sisi lain, ia tak sadar sedang mewawancarai sopir yang mengantar dirinya sendiri ke lokasi." (Dok: Istimewa).

Opini | Oleh: Agus Salim 

SUARAIMBANG.COM, — Di dunia jurnalistik yang sesungguhnya, menjadi seorang wartawan bukanlah soal siapa yang paling cepat mendapat kartu pers. Bukan pula soal berapa banyak kartu identitas media yang bisa dikantongi. Namun di tengah realitas yang kerap membius akal sehat, muncul sebuah kisah yang bukan sekadar lucu, melainkan menyayat hati. Inilah kisah tentang seseorang yang dipanggil Lahuddut — seorang “wartawan” yang konon cukup membayar Rp50.000, dan seketika identitas jurnalistik pun ada di tangan. Ilmu jurnalistik? Bisa dipelajari belakangan. Yang terpenting: punya keberanian, atau mungkin lebih tepat disebut — nekat.

Konon, Lahuddut dikenal di daerahnya sebagai sosok yang memiliki koleksi kartu pers yang luar biasa. Bukan satu atau dua, melainkan 14 kartu pers dari berbagai media — mulai dari media lokal hingga media yang seolah-olah menjangkau angkasa. Entah bagaimana prosesnya, yang jelas di matanya, menjadi wartawan adalah tentang kepemilikan kartu, bukan penguasaan ilmu.

Suatu hari, Lahuddut sedang melintas di sebuah jalan raya. Dari kejauhan, terlihat kerumunan warga yang memenuhi bahu jalan. Sebagai seseorang yang merasa berkewajiban hadir di lokasi peristiwa, ia pun bergegas mendekat. Namun, kerumunan begitu padat; mustahil baginya untuk menembus ke bagian depan.

Dalam sekejap, sebuah ide cemerlang terlintas di benaknya. Dengan suara lantang yang terdengar penuh kepedulian, ia berteriak: “Beri saya jalan! Saya ayah si korban!”

Mendengar teriakan itu, hati warga tergerak. Mereka segera membukakan jalan lebar-lebar baginya, penuh rasa simpati. Lahuddut pun melangkah bangga menuju barisan paling depan. Namun, sesampainya di sana, matanya terbelalak. Di tengah jalan raya itu, tergeletak seekor monyet yang meringis kesakitan.

Warga yang melihat hanya bergumam pelan, namun terdengar jelas: “Ohh… ini toh ayahnya…”

                               
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan