
“Alhamdulillah, langkah ini kami anggap sangat strategis untuk menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendukung sistem daur ulang yang berkelanjutan bagi anak didik,” tambah mantan Wakasek ini.
Tak hanya bank sampah, Hj. Nursyamsiah juga memperlihatkan adanya sumur penampung sampah organik basah atau yang dikenal sebagai sumur biopori, Lubang Cerdas Organik (LCO), maupun yang dikenal masyarakat setempat sebagai tradisi teba, yang dibuat di bagian belakang pagar sekolah.
“Sumur ini berfungsi untuk membuang dan memfermentasi sampah sisa makanan atau sampah organik secara alami di dalam tanah, sehingga tidak mencemari lingkungan maupun menimbulkan bau tak sedap. Nantinya sampah tersebut akan berubah menjadi pupuk kompos alami langsung di dalam tanah,” jelasnya.
Kepala Sekolah yang berhasil mencatatkan lebih dari 70 siswanya lolos ke perguruan tinggi negeri ternama pada tahun 2026 ini juga menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata pendidikan karakter.
“Kami ingin ini menjadi bagian dari kurikulum pembiasaan. Anak-anak ke sekolah bukan hanya belajar pelajaran akademis, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan, karena hidup bersih adalah sebagian dari iman,” pungkas Hj. Nursyamsiah.
(Gus/Editor MD).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





