
Namun, beliau mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat hati terbuai. Kejayaan di panggung kompetisi tidak otomatis menjamin kemuliaan di hadapan Allah jika tidak disertai ketakwaan dan keikhlasan.
“Jangan merasa sudah selesai. Jangan merasa paling hebat. Medali yang digenggam hanyalah buah proses, bukan tujuan akhir. Tujuan sejati kita adalah bagaimana ilmu ini membawa kita kepada keridhaan-Nya,” pesan Prof. Ambo Asse.
Rasa syukur yang tertinggi, kata beliau, diwujudkan dengan semakin tekunnya para santri dalam menuntut ilmu. Pesantren, tegasnya, bertanggung jawab melahirkan kader yang tidak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam kejujuran, kedisiplinan, dan integritas.
Kegiatan tasyakuran ini juga dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulsel, Dr. Hj. Mahmudah, Ketua LP2M, KH. Lukman Abd. Samad, serta Mudir Pesantren Darul Arqam Gombara, Dr. H. Muhammad Syaiful Saleh. Suasana kian hidup dengan penampilan bakat para santri, mulai dari pidato dalam bahasa asing, penceritaan kisah inspiratif, hingga ketangkasan barisan Hizbul Wathan.
Sebagai penutup, penghargaan diserahkan kepada delapan pesantren yang telah mengutus kader terbaiknya dan berjuang mengharumkan nama Sulawesi Selatan, yaitu:
1.Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar
2. Pesantren Ummul Mukminin Aisyiyah Sulawesi Selatan
3.Pesantren Darul Fallah Unismuh Bissoloro, Gowa
4. Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Balebo, Luwu Utara
5. Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia, Pinrang
6. Aisyiyah Boarding School Pinrang
7. Muhammadiyah Boarding School Rappang, Sidrap
8. Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Cece, Enrekang
Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari langkah yang lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih berkah. Selamat dan terus berjuang mencetak prestasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
( Haidir Fitra Siagian).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





