
Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.
“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.
BACA JUGA: Temuan Baru di Lokasi Jatuh Pesawat ATR 42-500
Namun selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas. Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti.
Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi. “Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.




