
Keunggulan utama program ini terletak pada konsep hybridnya. Setiap pojok baca dilengkapi kode QR yang terhubung langsung ke penyimpanan awan sekolah dan perpustakaan digital nasional. Cukup dengan memindai kode lewat perangkat gawai, siswa bisa mengakses ribuan e-book, komik edukatif, serta materi video pembelajaran secara gratis kapan saja. Inovasi ini mengubah gawai yang dulunya kerap menjadi gangguan, kini beralih menjadi alat belajar yang produktif.
Langkah ini selaras dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka yang menjadikan literasi dan numerasi sebagai indikator utama dalam Rapor Pendidikan. Dengan fasilitas yang adaptif dan inklusif, sekolah optimis dapat mencetak pembelajar mandiri, kreatif, dan berdaya saing tinggi.

Lebih dari sekadar program, SI-KANCIL adalah gerakan perubahan budaya belajar. Kini inovasi tersebut turut diikutsertakan dalam Ajang Inovasi Guru (IGA) 2026. Diharapkan, terobosan ini tidak hanya menjadi kebanggaan warga sekolah, tetapi juga menjadi contoh inspiratif bagi lembaga pendidikan lain dalam menghidupkan kembali budaya baca di tengah arus transformasi digital.
(Tim/ Editor MD).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





