
SUARAIMBANG.COM, BANTAENG — Ketika kobaran api mengancam nyawa dan harta benda warga Kabupaten Bantaeng, hal pertama yang seharusnya dipastikan adalah kesiapan penuh armada pemadam kebakaran. Namun kenyataan di lapangan memperlihatkan kendala yang sangat mendasar. Pasokan solar yang seharusnya tersedia untuk keperluan dinas ternyata sering tidak ada saat paling dibutuhkan. Akibatnya petugas terpaksa membeli sendiri solar di luar SPBU dan bahkan ikut menunggu antrean layaknya kendaraan warga biasa. Pelaksana Tugas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bantaeng Mursalim S.Sos., M.Si., menyampaikan keluhan serius ini kepada media Suara Imbang melalui sambungan telepon WhatsApp pada Senin 31 Agustus 2026.
Keluhan pertama dan paling mendesak adalah persediaan solar sering kali habis atau belum datang saat armada hendak berangkat. Ketika panggilan darurat masuk dan petugas bersiap meluncur, bahan bakar di tangki ternyata belum terisi. Tidak ada persediaan cadangan yang dijamin siap setiap saat. Akibatnya anggota terpaksa mencari sendiri ke pom bensin umum dan membayar dengan harga penuh. Beban biaya tambahan ini bukan sekadar soal pengeluaran melainkan menyangkut waktu keberangkatan yang sangat berharga bagi keselamatan warga.
Belum selesai persoalan ketersediaan, kendala kedua pun tak kalah serius. Sekalipun membeli di pom bensin umum petugas tetap harus berdiri berjejer menunggu giliran bersama ribuan kendaraan lain. Tidak ada jalur khusus tidak ada prioritas meskipun kendaraan itu membawa peralatan keselamatan nyawa. Di saat setiap detik menentukan selamat atau musnahnya harta benda bahkan nyawa manusia, waktu justru terbuang sia-sia hanya untuk menunggu pengisian solar.
Mursalim menegaskan harapannya dengan tegas bahwa penanganan armada Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran sebaiknya dipisahkan pengurusannya. Apalagi untuk mobil pemadam kebakaran sifatnya mutlak darurat. Ia tidak boleh terikat jadwal yang bisa ditunda-tunda. Mobil pemadam harus siap meluncur kapan pun panggilan tiba tanpa menunggu apa pun.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





