
Ia mengimbau peserta aksi tolong-menolong menjaga ketertiban: menyampaikan aspirasi dengan sopan dan beralasan, serta menghormati hak warga lain yang sedang beraktivitas. “Aspirasi tak perlu riuh untuk didengar, cukup lurus dan jelas agar dipahami,” pesannya.
Di Kabupaten Gowa, kehadiran aparat pengamanan terasa makin dekat dan menyentuh langsung. Kapolresta Gowa, Komisaris Besar Polisi Dr. Muh. Yusuf Usman, tak sekadar memberi instruksi dari ruangan — beliau turun sendiri ke tengah lokasi kegiatan. Berdialog langsung, mendengar keluh kesah, dan menjelaskan batasan demi keamanan bersama.
Langkah ini bukan sekadar seremonial. Kehadiran pimpinan di garis terdepan membawa dampak nyata: suasana terasa lebih sejuk, kecurigaan mencair menjadi percakapan, potensi gesekan diredam sejak belum sempat menyala. Pendekatan persuasif dan dialogis dijalankan secara konsisten sehingga setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, bukan baru ditangani setelah terjadi bentrokan.
Hingga rangkaian kegiatan usai, tidak ada laporan keributan maupun kerugian material besar. Massa pulang dengan pesan yang tersampaikan, aparat kembali dengan tugas terpenuhi, dan warga lain tetap menjalani hari tanpa terganggu berlebihan. Inilah wujud demokrasi yang sehat: suara didengar, ketertiban ditegakkan, dan damai diutamakan di atas segalanya.
(Anten/Rls/ Editor MD).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





