
Keberangkatan ini bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam. Sebelum menuju pelabuhan, para santri telah menjalani masa karantina intensif selama tiga hari di Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar di bawah arahan Koordinator Karantina, Dr. Zainal Abidin. Bersama 11 mentor, mereka digembleng dari dini hari hingga malam hari. Materi yang ditempuh mencakup Musabaqah Hifdzil Qur’an, Musabaqah Tilawatil Qur’an, Musabaqah Dirasah Islamiyah, pidato bahasa Arab dan Inggris, story telling, ilqaul qishshah, PBB Variasi, hingga keterampilan alam melalui Jelajah Alam dan Tali Temali.
Saat melepas rombongan, para pemimpin memberikan pesan-pesan berharga. KH. Lukman Abd. Samad menegaskan lima modal utama yang harus dimiliki setiap santri: tekad yang tinggi (himmah ‘aliyah), keyakinan yang kokoh (al-yaqin), keberanian menghadapi tantangan (asy-syaja’ah), mental sebagai pelaku perubahan, serta kekuatan doa yang tak terputus. Sementara itu, Dr. K.H. Mawardi Pewangi mengingatkan para santri untuk menjaga kesehatan fisik, berhati-hati beradaptasi dengan cuaca dingin di Malang, dan yang terpenting -menanamkan rasa percaya diri yang kuat tanpa rasa minder saat berhadapan dengan ribuan peserta dari seluruh penjuru Indonesia.
KSMN II akan berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 September 2026, dengan mengusung tema “Menyiapkan Kader Pemimpin Bangsa: Santri Muhammadiyah Disiplin, Mandiri, dan Berprestasi”. Ajang ini akan diikuti oleh sekitar 1.700 santri dari berbagai daerah di Indonesia – sebuah panggung besar di mana santri Sulawesi Selatan akan membuktikan kualitas diri, menunjukan bahwa mereka bukan sekadar penumpang, melainkan pelaku perubahan yang siap mencetak prestasi. Rombongan dijadwalkan kembali tiba di Makassar pada 25 September 2026. Semoga perjalanan ini membawa keberkahan dan kemenangan bagi putra-putri terbaik Sulawesi Selatan.
(Suara Imbang/HFS).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





