Bupati Bantaeng Buka Buru Babi Hutan Andalkan Anjing Tombak

  • Bagikan
Foto: Bupati Bantaeng Uji Nurdin melepas rombongan pemburu babi hutan di Desa Kaloling, 18 April 2026. (Dok.Istimewa).

SUARAIMBANG.COM, BANTAENG — Bupati Bantaeng M. Fathul Fauzy Nurdin turun langsung membuka tradisi Berburu Babi Hutan di Desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke, Sabtu, 18 April 2026.

Kepala daerah termuda di Sulawesi Selatan itu menegaskan agenda tahunan warga tersebut bukan sekadar ritual, melainkan strategi nyata melindungi lahan pertanian dari serangan hama.

Pembukaan tradisi Berburu Babi Hutan yang dihadiri langsung Bupati Bantaeng, M. Fathul Fauzy Nurdin, akrab disapa Uji Nurdin, bersama kelompok masyarakat Desa Kaloling.

Populasi babi hutan meningkat dan merusak tanaman petani setiap musim panen, bahkan masuk ke pemukiman.  Warga menggunakan anjing terlatih dan tombak untuk menyisir hutan memburu babi hutan secara terorganisir.

Di hadapan ratusan warga pemburu, Uji Nurdin menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat menjaga tradisi turun-temurun ini. Menurutnya, berburu babi hutan memiliki dua fungsi krusial: melestarikan kearifan lokal sekaligus mengendalikan hama yang merugikan petani.

“Setiap musim panen, keluhan petani selalu sama. Babi hutan menyerang jagung, kakao, dan padi pada malam hari. Tidak jarang kawanan itu masuk sampai ke pekarangan rumah,” ujar Uji Nurdin.

Tradisi ini digelar dengan aturan ketat. Para pemburu dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing membawa anjing pemburu yang sudah dilatih. Tombak hanya digunakan saat babi hutan sudah terkepung, meminimalkan risiko bagi warga maupun ekosistem.

Uji Nurdin menekankan, kegiatan ini efektif menekan populasi babi hutan yang dalam tiga tahun terakhir melonjak signifikan di wilayah Gantarangkeke. Data Dinas Pertanian Bantaeng mencatat kerugian petani akibat hama babi mencapai ratusan juta per musim tanam.

Pemerintah Kabupaten Bantaeng berencana memfasilitasi tradisi ini menjadi agenda wisata budaya tahunan. Syaratnya, perburuan tetap mengedepankan aspek keselamatan, tidak merusak hutan, dan berkoordinasi dengan BKSDA untuk menjaga keseimbangan satwa liar.

Dengan pendekatan budaya, Uji Nurdin berharap konflik manusia dan satwa liar di Bantaeng bisa ditekan tanpa harus menggunakan cara-cara yang merusak ekosistem.

FAD/ EDITOR MD.

                               
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan