
SUARAIMBANG.COM, BANTAENG — Suara pengeras suara membelah udara di halaman Kantor PDAM Tirta Eremerasa Kabupaten Bantaeng, Senin (24/8/2026). Sekitar 100 warga dari empat kelurahan di Kecamatan Bissappu — Bonto Rita, Bonto Sungguh, Bonto Atu, dan Bonto Tiro — berkumpul dengan tekad yang sama: mereka telah membayar, tetapi air tidak pernah mengalir ke rumah-rumah mereka. “Bayar angin,” begitu mereka menyebutnya. Dan hari ini, mereka tidak lagi diam.
Aksi ini dipimpin oleh Ichsan Revolusi, yang bertindak sebagai jenderal lapangan. Di hadapan para karyawan, Dewan Pengawas (Dewas) PDAM, serta aparat kepolisian dari Polsek Bantaeng, Polres Bantaeng, dan Satpol-PP yang mengamankan lokasi, Ichsan berteriak lantang sebanyak tiga kali: “Copot Direktur PDAM Bantaeng!” Seruan itu bergema, disambut sorak massa yang semakin memuncak.
Dalam orasinya, Ichsan menyampaikan tuntutan utama warga: kompensasi selama satu tahun penuh karena merasa telah membayar layanan air yang tidak pernah mereka terima. “Kami sudah bayar, tapi air tidak pernah mengalir. Ini bukan soal jumlah uang, tapi soal keadilan — kami tidak mau membayar untuk sesuatu yang tidak kami dapatkan,” tegasnya. Perwakilan warga memperkirakan sekitar 90 orang terdampak langsung, dan angka itu bisa bertambah saat kebutuhan air meningkat.
Namun, Dewan Pengawas PDAM belum berani menjamin pemenuhan tuntutan kompensasi tersebut. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi — nasib kompensasi masih menggantung, menunggu kesanggupan dan kesepakatan pihak pengelola.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





