
Namun, Bupati menegaskan bahwa kendala bukan hanya soal cuaca. Sumber air sebenarnya sudah ada di lokasi — bukan persoalan mata air yang kering. Hambatan utamanya adalah jaringan distribusi yang belum terhubung. Dibutuhkan pemasangan pipa sepanjang 600 meter dengan diameter 8 inci untuk menyalurkan air dari sumber ke permukiman warga. Pekerjaan ini tidak instan: selain pemasangan pipa, diperlukan izin dari pemilik lahan yang dilintasi jalur, pengecekan teknis di lapangan, serta perhitungan ulang yang akurat sebelum pekerjaan dapat dimulai. Tim PDAM sebenarnya sudah melakukan perhitungan awal, namun verifikasi di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan semua rencana bisa berjalan.
Sebagai langkah mengatasi kesulitan warga dalam masa sulit ini, Bupati Uji Nurdin kemudian mengajukan solusi sementara: “Iya, iya,” ucap Bupati menyetujui secara prinsip. Namun ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaannya belum bisa langsung berjalan — diperlukan kajian bersama terlebih dahulu untuk menentukan siapa saja penerimanya, bentuk bantuannya, serta mekanisme penyalurannya agar tepat sasaran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan final mengenai kompensasi satu tahun yang dituntut warga. Namun satu hal yang pasti: pintu dialog sudah terbuka. Kajian bersama akan segera dilakukan, survei lapangan akan dilaksanakan, dan rencana pemasangan pipa 600 meter sedang dipersiapkan. Warga Bonto Rita, Bonto Sungguh, Bonto Atu, dan Bonto Tiro pulang hari ini dengan satu harapan — bahwa air bersih, hak paling dasar setiap manusia, akan segera mengalir kembali. Dan saat itu terjadi, mereka tidak lagi merasa sedang “membayar angin”.
(Tim/ Editor TIM-SI).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





