
Keenam Tathbiq, mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Inilah puncak tujuan diturunkannya kitab suci. Jika dibaca namun tidak diamalkan, maka bacaan itu bagai pedagang yang menjual barang namun tidak memakannya sendiri.
Ketujuh Ta’lim, mengajarkan dan menyebarkan kebaikan Al-Qur’an kepada orang lain. Cahaya itu tak akan pudar jika dibagi, justru makin terang menyinari sekelilingnya. Inilah warisan terbesar para nabi — bukan harta, melainkan ilmu yang mengalir tak putus hingga ke akhir zaman.
Di tengah tauziahnya, Kiai Mustari turut membukakan rahasia kesibukannya mengurus umat sejak masa remaja hingga kini menjabat berbagai amanah besar. “Hobi saya sejak muda adalah mengurus umat. Kuncinya sederhana: perbanyaklah bersyukur kepada Allah. Penerapannya diajarkan langsung Nabi SAW: memberi makan orang yang lapar, menebarkan salam ke mana pun engkau melangkah, dan bangunlah di sepertiga malam berbicara kepada Allah sebelum fajar menyingsing.” Tiga amalan ringan itu, kata beliau, adalah fondasi kokoh yang menjadikan seseorang tak lelah mengabdi sepanjang hayat.
Demikianlah sebutir ilmu berharga yang dititipkan pagi itu di tanah Samata. Tujuh pintu menuju Al-Qur’an terbuka lebar. Masuklah, pilih yang mampu kau awali, lalu teruslah naik tingkat. Karena sejauh apa pun kau berjalan bersama firman Allah, kau takkan pernah tersesat.
Laporan Redaksi Suara Imbang — (Gus/ Editor MD) Gowa, Sabtu 29 Agustus 2026
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





