
“Alhamdulillah persiapannya sudah matang. Kami juga sudah mengundang Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel H. Iqbal Najamuddin, Ketua PMI Sulawesi Selatan, serta sejumlah pejabat terkait untuk hadir dan memberikan dukungan langsung,” ungkap Rezki.
Target yang dipasang dalam kegiatan ini cukup ambisius, yaitu 100 hingga 150 kantong darah. Angka ini bukan tanpa alasan. Per data per Oktober 2026, stok darah di UTD PMI Sulsel hanya tersisa 1.829 kantong darah, padahal kebutuhan harian yang ideal mencapai 2.500 kantong. Artinya, stok yang ada saat ini hanya mampu menutup kebutuhan sekitar dua hari ke depan.
Secara keseluruhan, kebutuhan darah di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai sekitar 16.000 kantong setiap bulannya. Namun, penurunan jumlah pendonor terasa nyata di musim liburan dan menjelang akhir tahun. Ditambah lagi, posisi Makassar yang berperan sebagai pusat rujukan kesehatan kawasan Indonesia Timur membuat permintaan darah terus mengalir dari berbagai daerah.
“Penyebab penipisan stok ini antara lain berkurangnya kegiatan donor di musim liburan, sementara permintaan dari rumah sakit-rumah sakit di Kota Makassar maupun kabupaten/kota lain terus meningkat. Makassar adalah kota rujukan, sehingga tekanan kebutuhan darah jauh lebih besar,” jelas alumni UINAM Makassar ini.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





