Faktur Tak Berstempel Diterima, LIRA Desak Pertamina Buka Suara

  • Bagikan
Suwardi pengawas SPBU Lambocca, (kiri) dan Andi Yusdanar Hakim Ketua LIRA Bantaeng, (kanan), (Foto dok: istimewa).

Merespons temuan tersebut, Ketua Pemuda LIRA Bantaeng, Andi Yusdanar Hakim, menilai ada banyak kejanggalan yang perlu dikonfirmasi ulang. Hal ini disampaikannya saat ditemui terpisah di Warkop Mas Daeng (Masda), Lamalaka, Selasa (30/6/2026).

Selain persoalan administrasi yang meragukan, Andi Yusdanar juga menyoroti dugaan adanya pola pengiriman yang sangat aneh.

Diduga kuat terdapat satu unit kendaraan dengan identitas yang sama—mulai dari nomor polisi, identitas sopir, hingga waktu operasional—namun dalam dokumen tercatat mengangkut dua jenis BBM berbeda secara bersamaan atau dalam rentang waktu sangat dekat, yakni Biosolar dan Pertalite,” paparnya.

Kondisi ini dinilai sangat tidak wajar dan perlu dipastikan apakah masih sesuai prosedur atau sudah menyimpang jauh dari aturan.

LIRA KIRIM SURAT KE PERTAMINA & BPH MIGAS

Menurut Andi Yusdanar, transparansi adalah kunci. Jika praktik seperti itu benar terjadi, maka institusi terkait wajib memberikan penjelasan.

“Jika benar faktur tanpa stempel dan tanda tangan dianggap sah, atau satu mobil bawa dua jenis BBM berbeda, maka Pertamina Makassar tidak boleh bungkam. Ini harus dijelaskan secara terbuka kepada publik,” tegasnya.

Untuk menjawab keresahan masyarakat, pihak LIRA memastikan telah mengirimkan surat resmi secara online kepada manajemen Pertamina dan BPH Migas.

Surat ini berisi permintaan agar dilakukan penelusuran dan audit menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM di wilayah ini.

“Kami butuh kepastian hukum. Transparansi sangat penting agar tidak menimbulkan spekulasi negatif di masyarakat,” tambahnya.

TINDAK LANJUT

                               
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan