
Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
SUARAIMBANG.COM MAKASSAR – Fenomena konflik yang terjadi antar mahasiswa di perguruan tinggi mencerminkan tantangan sosial dan psikologis yang harus dihadapi bersama. Mewujudkan suasana kampus yang kondusif demi kemajuan akademik membutuhkan perhatian serius dari seluruh civitas akademika.
Menurut para ahli, salah satu faktor utama yang memicu konflik adalah kurangnya kesiapan mengelola emosi dan kontrol diri selama masa transisi menuju kedewasaan. Mahasiswa yang sedang mencari jati diri dan pengakuan sosial sering menghadapi tekanan akademik dan sosial yang mendorong mereka mengekspresikan eksistensi secara kurang konstruktif.
Media sosial pun terkadang turut memicu penyebaran aksi kekerasan sebagai bentuk pengakuan diri. Rivalitas antar kelompok atau organisasi serta terbatasnya ruang bagi penyaluran minat dan bakat positif memperumit situasi ini. Kondisi lingkungan kampus dan sekitarnya yang belum sepenuhnya mendukung juga menjadi faktor pendukung terjadinya konflik.
Penelitian oleh Luthfiyana dkk. (2025) menyatakan, “Pendekatan edukatif dan sosial adalah strategi pencegahan efektif dengan fokus memberikan pemahaman untuk mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara damai.” Praktik ini dapat diwujudkan melalui penyuluhan, lokakarya, serta penguatan peran dosen pembimbing dan konselor, termasuk keterlibatan pihak ketiga yang dapat mempersatukan lintas fakultas maupun lintas perguruan tinggi.
Lebih jauh, keterlibatan tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, dan aparat keamanan sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Saputra et al. (2024) menegaskan, “Mengalah bukan berarti kalah, melainkan usaha untuk mengendalikan emosi negatif dan mendisiplinkan etika serta moral.”
Keteladanan pimpinan kampus, mulai dari ketua program studi hingga rektor, juga sangat krusial. Sikap saling menghormati, mendukung, dan memperkuat di antara pimpinan akan menular kepada mahasiswa dan membentuk budaya kampus yang positif. Sebaliknya, ketidakharmonisan pimpinan dapat menjadi sinyal negatif bagi civitas akademika, terutama bagi mahasiswa.
Mahasiswa adalah aset bangsa yang mudah dibentuk menjadi pribadi hebat, namun juga rentan pengaruh negatif. Mereka datang ke kampus (menempuh perkuliahan) dengan harapan mendapat bimbingan terbaik untuk masa depan yang cerah. Ketika harapan tersebut seolah pudar karena dinamika internal kampus, rasa kecewa dapat memunculkan protes yang kadang berujung konflik.
Oleh karena itu, dibutuhkan sinergitas antara kampus, mahasiswa, orang tua, masyarakat, dan aparat keamanan untuk membangun lingkungan kampus yang harmonis, yang sarat akan sikap saling menghormati dan saling mendukung. Dengan demikian, kampus menjadi tempat terbaik untuk pengembangan karakter dan prestasi, jauh dari konflik serius apalagi tawuran.
Dengan sinergi ini, mahasiswa dapat tumbuh menjadi generasi berkarakter, penuh semangat persatuan dan persaudaraan, yang kelak secara kolaboratif dapat berkontribusi besar dalam membangun bangsa dan negaranya, bahkan membangun peradaban dunia di eranya.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





