
Juku Eja mengawali laga dengan agresif. Menit 16, umpan silang terukur dari sisi kiri disambut sundulan Muhammad Arfan. Bola mengarah ke pojok kanan gawang tanpa mampu dijangkau Nadeo Argawinata. Stadion BJ Habibie bergemuruh, PSM unggul 1-0.
Keunggulan itu tak bertahan lama. Menit 38, pelanggaran Ananda Raehan di sisi kiri pertahanan PSM berbuah tendangan bebas. J. Villa mengeksekusi langsung ke kotak penalti. Bola sempat mengenai pemain belakang PSM sebelum mengecoh Hilmansyah. Skor imbang 1-1 bertahan hingga jeda.
Babak kedua jadi milik Pesut Etam. Pergantian taktis membuat Borneo FC lebih menekan. Menit 78, serangan cepat dari sektor kanan diakhiri umpan tarik ke mulut gawang. K. Obieta datang dari lini kedua dan menyontek bola masuk. Borneo berbalik unggul 2-1.
PSM mencoba merespons lewat Savio Roberto dan Luka Cvik. Namun rapatnya pertahanan Borneo plus gemilangnya Nadeo membuat Juku Eja frustrasi. Menit 84, petaka datang. Syahrul Lasinari menerima kartu merah langsung usai tekel keras. PSM main dengan 10 orang.
Unggul jumlah pemain, Borneo FC justru mengulur waktu. Tiga pemain Pesut Etam diganjar kartu kuning karena sengaja memperlambat permainan. Di sisi lain, mistar gawang satu kali menggagalkan peluang emas PSM di menit akhir.
Kekalahan ini menahan PSM Makassar di posisi 13 klasemen dengan 28 poin, hanya empat angka dari Persis Solo di zona merah peringkat 16. Sebaliknya, Borneo FC tetap di posisi 2 dengan 63 poin, menempel Persib Bandung yang mengoleksi 64 poin namun baru memainkan 27 laga.
“Gol cepat tidak cukup. Kami kehilangan fokus di bola mati dan transisi. Evaluasi besar jelang laga berikutnya,” kata pelatih PSM Makassar usai pertandingan.
SUNDARI/EDITOR MD.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





