
Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika situasi masih sangat rawan dan belum semua pihak yakin akan masa depan Republik yang baru lahir. Di tengah ketidakpastian itulah, Muhammad Jasin bersama rekan-rekannya mengambil sikap tegas — mereka menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia dan menolak tunduk pada kekuasaan kolonial. Itulah mengapa Hari Juang Polri diperingati: untuk mengingatkan bahwa kepolisian lahir bersama perjuangan kemerdekaan, dan darah pengabdian itu mengalir hingga hari ini.
“Peristiwa tersebut menegaskan kesetiaan polisi kepada Republik Indonesia. Momen itu juga menjadi tonggak perjuangan kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa,” tambahnya.
Lebih dari sekadar mengenang tokoh dan tanggal, nilai-nilai yang diwariskan itulah yang kini menjadi kompas moral bagi seluruh personel Polri. Semangat yang dulu membara di dada Muhammad Jasin dan kawan-kawan harus tetap hidup di setiap seragam yang bertugas saat ini.
“Semangat perjuangan para pendahulu harus kita teladani. Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan persatuan bangsa,” tegas Kombes Pol. Didik Supranoto.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





