Filosofi Air, Pelajaran Berharga dari Wartawan Senior

  • Bagikan
Ilustrasi filosofi kehidupan — tetesan air yang jatuh berulang-ulang perlahan mengikis batu yang keras dan mengalir melewati batang kayu yang rapuh. Bukti bahwa kelembutan dan ketekunan air lebih kuat daripada kekakuan batu dan kaku kayu: bukan dengan memaksa, tetapi dengan terus mengalir dan menyesuaikan diri, air menemukan jalannya dan mengalahkan rintangan. (Foto dok: Istimewa).

“Maka jadilah seperti air. Saat berhadapan dengan yang lebih keras, jangan memecahkan diri menjadi batu kedua. Jadilah air yang mengalir melewatinya. Saat terhalang yang tak bisa digeser, jangan memaksakan diri menjadi kayu yang kaku menolak berbelok. Cari jalan lain, naik sedikit, turun sebentar — dan kamu akan tetap bergerak maju menuju tujuanmu.”

“Kemenangan terbesar bukanlah saat kamu mematahkan lawan dengan kekuatanmu. Melainkan saat kamu tetap utuh dan terus melangkah maju, sementara rintangan di hadapanmu perlahan runtuh dan hanyut oleh ketekunanmu.”

“Di tengah dunia yang sering kali mengajarkan kita untuk selalu berdiri tegak dan berani menantang arus, kadang yang paling dibutuhkan justru kemampuan untuk menjadi seperti air — menyejukkan, beradaptasi, dan tak pernah berhenti mengalir menuju tujuan, meski jalannya berliku,” tutup Agus Salim.

(Suara Imbang — Opini).

                               
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.
  • Bagikan