
“Saya paham. Bantaeng memang terdampak El Nino sehingga kemarau terasa lebih panjang dan kering dari biasanya. Tapi masalah yang terjadi di Bissappu ini bukan karena mata air yang kering,” kata Bupati dengan tegas.
Menurut Bupati, sumber air sebenarnya sudah tersedia di lokasi — bukan persoalan kekeringan alam. Kendala utamanya terletak pada jaringan distribusi yang belum terhubung ke permukiman warga. Diperlukan pemasangan pipa sepanjang 600 meter dengan diameter 8 inci untuk mengalirkan air dari sumber ke rumah-rumah warga. Namun proses ini tidak dapat berjalan seketika: butuh izin dari pemilik lahan yang dilintasi jalur, survei teknis di lapangan, serta perhitungan ulang yang akurat sebelum pekerjaan dapat dimulai.
Sebagai solusi darurat untuk meringankan beban warga di tengah musim kemarau yang panjang, Bupati menyetujui secara prinsip pemberian bantuan air bersih sementara bagi masyarakat yang terdampak. “Tapi mekanismenya harus dikaji terlebih dahulu agar tepat sasaran dan merata,” ujarnya menjelaskan.
Hingga berita ini ditulis, tuntutan kompensasi satu tahun yang diajukan warga belum ada keputusan resmi dari pihak PDAM. Namun satu hal yang pasti: Bupati telah menjanjikan akan segera dilakukan kajian bersama, survei lapangan, serta percepatan pemasangan jaringan pipa agar air benar-benar mengalir.
Warga kemudian beranjak menuju Kantor DPRD Bantaeng untuk melanjutkan aspirasi mereka, membawa harapan yang sederhana namun mendasar: suatu hari nanti, keran di rumah mereka mengalirkan air bersih. Dan saat itu terjadi, mereka tidak lagi merasa sedang “membayar angin”.
(Tim/ Editor TIM-SI).
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





