
Melalui pembelajaran IPA berbasis alam sekitar, siswa belajar bahwa sains bukan sekadar teori, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan. Dari rasa ingin tahu tumbuhlah kesadaran, dan dari kesadaran lahirlah tanggung jawab.
Anak-anak Maros yang belajar dari alamnya sendiri akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam bersikap terhadap lingkungan. Mereka adalah calon ilmuwan muda yang berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter.
Penutup
Kabupaten Maros memiliki anugerah alam yang luar biasa — tinggal bagaimana dunia pendidikan memanfaatkannya. Pembelajaran IPA berbasis alam sekitar bukan hanya metode mengajar, tetapi juga jalan membentuk manusia yang berpengetahuan dan berkepribadian ekologis.
Jika sekolah, guru, dan pemerintah berjalan seiring seirama, maka sains tidak lagi terasa sulit, melainkan menjadi cara untuk mencintai kehidupan. Dan di Maros, cinta itu bisa dimulai dari halaman sekolah sendiri.
Tentang Penulis:
Sudarto adalah Doktor di bidang IPA, dosen Universitas Negeri Makassar yang aktif meneliti pembelajaran sains humanistik, pembelajaran IPA berorientasi Deep Learning dan berbasis lingkungan di Sulawesi Selatan. Ia juga menulis opini pendidikan di berbagai media tentang transformasi pembelajaran IPA di sekolah dan di berbagai jurnal.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.




