
Oleh: Sudarto
Penulis merupakan Dosen Universitas Negeri Makassar
SUARAIMBANG.COM, MAKASSAR – Kabupaten Bantaeng dikenal sebagai daerah kecil dengan keindahan alam yang luar biasa. Dari garis pantai yang panjang di pesisir selatan Sulawesi hingga perbukitan hijau di dataran tinggi, Bantaeng menyimpan potensi besar sebagai ruang belajar bagi anak-anak sekolah. Namun, sering kali keindahan itu belum sepenuhnya menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas, khususnya dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara mendalam.
Padahal, alam Bantaeng adalah “buku terbuka” yang sesungguhnya. Laut, sungai, sawah, dan bukit bukan hanya pemandangan, melainkan juga laboratorium alami yang mengajarkan konsep-konsep IPA secara nyata, kontekstual, dan bermakna.
Belajar dari Laut yang Menghidupi
Sebagian besar masyarakat Bantaeng hidup di daerah pesisir. Anak-anak di sana tumbuh dengan melihat para nelayan berangkat melaut, ombak bergulung, dan perahu atau kapal yang berlabuh di dermaga setiap hari. Semua fenomena itu bisa menjadi bahan belajar IPA secara mendalam, sehingga IPA semakin menarik dan terasa dekat dengan kehidupan mereka.

Misalnya, saat guru menjelaskan tentang gaya dorong dan gaya apung atau hukum Archimedes, mereka bisa mengamati bagaimana perahu atau sanpan tetap mengapung di air. Saat membahas energi panas dan cahaya matahari, siswa dapat mengaitkannya dengan pengeringan ikan asin di pantai. Bahkan, topik ekosistem laut dapat dipelajari langsung dari kehidupan terumbu karang atau jenis ikan di perairan Bantaeng.
Dengan cara ini, pelajaran IPA tidak lagi terasa abstrak dan membingungkan. Anak-anak belajar IPA melalui pengalaman nyata, dengan rasa ingin tahu yang tumbuh dari lingkungan mereka sendiri, sehingga belajar IPA semakin bermakna bagi mereka.
Bukit dan Hutan: Laboratorium Alam di Dataran Tinggi
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi dan/atau tujuan menghasut.





